Mimpi Jadi Dokter Cahaya Diwujudkan Maesyal Lewat Beasiswa

Mimpi Jadi Dokter Cahaya Diwujudkan Maesyal Lewat Beasiswa

Pak Saryono menunjukkan foto anaknya penerima beasiswa full kedokteran Tangerang Gemilang, Cahaya Adelya, saat ditemui Tangerang Ekspres di rumahnya, Kecamatan Cisoka.--

TANGERANG — Beasiswa Tangerang Gemilang mengubah mimpi yang terasa mustahil menjadi kenyataan. Anak buruh bangunan dan buruh toko itu kini mendapat kesempatan menempuh pendidikan kedokteran hingga lulus.

Bagi Saryono dan Rokhani, menyekolahkan anak hingga menjadi dokter adalah mimpi yang nyaris tak berani mereka bayangkan. Penghasilan yang tak menentu, pekerjaan se­rabutan, dan kehidupan yang masih kerap bergantung pada bantuan saudara membuat biaya kuliah kedokteran terasa begitu jauh dari jangkauan.

Namun, sebuah sambungan telepon mengubah segalanya.

Di tengah kesibukannya me­ngunjungi saudara di Lam­pung, Saryono menerima kabar dari Bagian Kesejahteraan Rak­yat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang. Ia di­minta datang ke Gedung Bupati Tangerang. 

Ada kabar tentang beasiswa yang berkaitan dengan putri sulungnya, Cahaya Adelya.

Awalnya, ia tak menyangka kabar itu akan menjadi titik balik kehidupan keluarganya. Cahaya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa Tangerang Gemilang untuk menempuh pendidikan kedok­teran di Universitas Muham­madiyah Tangerang (UMT).

“Gak sama sekali kebayang. Gak termimpi itu. Sama sekali. Saya orang susah, kehidupan juga masih istilahnya disubsidi dari saudara-saudara. Mata pencaharian gak ada. Saya buruh bangunan, buruh kasar, serabutan. Istri saya buruh toko digaji Rp30 ribu sehari. Asli gak kebayang,” tutur Sar­yono saat ditemui Tangerang Ekspres di kediamannya di Kam­pung Cilaban, Desa Bo­jong Loa, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, 17 Agustus 2026.

Bagi keluarga ini, kabar ter­sebut bukan sekadar kesem­patan masuk perguruan tinggi. Beasiswa itu membuka pintu yang selama ini terasa tertutup oleh keterbatasan ekonomi.

Jauh sebelum namanya ter­catat sebagai penerima bea­siswa, Cahaya telah menjalani keseharian yang dibentuk oleh kedisiplinan. Di tengah keterbatasan keluarga, Sar­yono berusaha memastikan putrinya tetap tekun belajar, menjaga ibadah, dan me­mahami ilmu agama.

Ia tidak menuntut anaknya hidup berlebihan atau me­ngejar sesuatu di luar ke­mampuan keluarga. Yang diinginkannya sederhana: Cahaya tumbuh menjadi anak yang percaya diri, berilmu, dan memiliki pegangan hidup.

Rutinitas itu dijalani hampir setiap hari. Sore hari, Cahaya membantu membereskan rumah. Malamnya, ia belajar pelajaran sekolah. Pagi-pagi, sekitar pukul 04.30, ia sudah bangun untuk menunaikan salat sebelum kembali mem­persiapkan diri menghadapi pelajaran.

“Saya pantau dari kedisip­linan. Pertama ngaji juga di tempat ustazah tentang aki­dah. Sore dia beres-beres ru­mah, malam­nya belajar pe­la­jaran sekolah. Nanti bangun jam setengah lima, salat, habis itu siap-siap belajar pelajaran sekolah. Begitu terus setiap hari,” kata Saryono.

Di rumah sederhana itu, pendidikan menjadi harapan yang terus dipelihara, meski jalan menuju perguruan tinggi belum pernah benar-benar terlihat.

Saryono bahkan mengaku tidak mengetahui bahwa Ca­haya mendaftarkan diri dalam program Beasiswa Tangerang Gemilang. Ia baru mengetahui putrinya memperoleh ke­sempatan tersebut setelah dihubungi pihak pemerintah daerah. “Kita orang gak punya, gak ada bayangan mau masuk ke perguruan tinggi itu,” ujarnya.

Sumber: