BBM Langka di Bali, Puan Desak Pertamina Tambah Pasokan

BBM Langka di Bali, Puan Desak Pertamina Tambah Pasokan

Ketua DPR RI, Puan Maharani.--

JAKARTA — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Bali me­mi­cu antrean kendaraan hing­ga satu kilometer di stasiun pe­ngisian bahan bakar umum (SPBU). Kondisi ini bahkan mem­buat seorang perempuan di Kabupaten Badung pingsan se­telah mengantre berjam-jam.

Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak Pertamina bersama kementerian terkait segera me­nambah pasokan BBM sekaligus membenahi distri­busi agar kebutuhan masyara­kat kembali terpenuhi.

“Kesulitan warga memper­oleh BBM di sejumlah SPBU di Bali perlu segera diselesaikan melalui penguatan distribusi sam­pai titik pelayanan. Pe­merintah dan Pertamina perlu memastikan adanya tambahan pasokan BBM di Bali,” kata Puan, Rabu (14/10/2026).

Kelangkaan BBM dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, mulai dari Denpasar, Badung, Klungkung, Buleleng, hingga Bangli.

Warga terpaksa mengantre panjang untuk mendapatkan bensin, sementara antrean kendaraan di sejumlah SPBU dilaporkan mengular hingga satu kilometer.

Pertamina sebelumnya mengungkapkan, salah satu penyebab kelangkaan tersebut adalah kendala bongkar muat kapal tanker. Perusahaan pelat merah itu pun menyatakan akan menyiapkan tambahan pasokan BBM untuk Bali.

Namun, Puan mengingatkan, penambahan pasokan tidak akan efektif apabila tidak di­barengi dengan distribusi yang cepat dan tepat sasaran. Menurut dia, BBM yang tiba di Bali harus segera disalurkan ke SPBU, terutama di wilayah yang masih mengalami keko­songan dan antrean panjang.

“Tambahan pasokan yang tiba juga perlu diikuti kepas­tian pengiriman ke SPBU, ter­utama wilayah yang masih mengalami kekosongan BBM dan terjadi antrean panjang,” ujarnya.

Puan mendorong Kemen­terian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Pertamina memeriksa seluruh tahapan pemulihan pasokan. Pemeriksaan tersebut men­cakup kedatangan kapal tan­ker, proses pembongkaran, ketersediaan stok di terminal, hingga pengiriman BBM ke­pada penyalur.

Langkah itu dinilai penting untuk mengidentifikasi ham­batan yang masih terjadi se­ka­ligus menentukan tindakan yang diperlukan agar pela­yanan kembali normal.

“Warga membutuhkan ke­pastian BBM dapat diper­oleh di tempat pelayanan. Setiap tambahan pasokan perlu segera diterjemahkan menjadi pengiriman yang sesuai ke­butuhan dan pemulihan SPBU yang dapat dirasakan ma­syarakat,” tegasnya.

Selain mempercepat dis­tribusi, Puan meminta Per­tamina memetakan kebutuhan BBM berdasarkan jenis dan wilayah pelayanan. SPBU yang berulang kali mengalami ke­kosongan harus menjadi prioritas agar pengiriman berikutnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga pasokan lanjutan tiba.

Ia juga meminta pemerintah menetapkan target pemulihan yang terukur. Indikatornya antara lain jumlah SPBU yang kembali beroperasi normal, durasi kekosongan stok, kecu­kupan pasokan di antara jad­wal pengiriman, serta perkem­bangan waktu antrean ken­daraan.

“Evaluasi perlu melihat jum­lah SPBU yang kembali mela­yani, lamanya kekosongan, kecukupan pasokan antar­jadwal pengiriman, dan perkem­bangan waktu antrean. Informasi tersebut menjadi dasar penyesuaian operasi setiap hari,” papar Puan.

Sumber: