360 PNS Pemprov DIY Raih Satyalancana Karya Satya Presiden, Sri Sultan Tekankan Makna Pengabdian

360 PNS Pemprov DIY Raih Satyalancana Karya Satya Presiden, Sri Sultan Tekankan Makna Pengabdian

Sri Sultan Hamengku Buwono X--

YOGYAKARTA – Sebanyak 360 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi negara atas pengabdian aparatur yang telah menjalankan tugas selama 10, 20, hingga 30 tahun. Penyematan Satyalancana Karya Satya Tahun 2026 berlangsung di Yogyakarta, Senin (7/9).

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh PNS yang menerima penghargaan tersebut. Menurutnya, Satyalancana Karya Satya bukan sekadar penghargaan atas lamanya seseorang menjalankan tugas sebagai aparatur negara.

Sri Sultan menilai tanda kehormatan itu sekaligus menjadi pengingat mengenai amanah, tanggung jawab, dan kehormatan yang harus terus dijaga sepanjang perjalanan pengabdian.

“Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun adalah hitungan masa kerja. Tetapi satya tidak dihitung oleh kalender. Satya diuji oleh keteguhan menjaga amanah, ketika jabatan berubah, zaman berganti, dan tantangan pelayanan datang silih berganti,” ujar Sri Sultan.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh para penerima Satyalancana Karya Satya selama bertahun-tahun dapat memberikan manfaat lebih luas, baik bagi pemerintahan maupun masyarakat.

Pengalaman panjang tersebut, kata Sri Sultan, juga perlu diteruskan dalam bentuk keteladanan kepada aparatur yang lebih muda. Dengan demikian, penghargaan yang diterima tidak berhenti sebagai pencapaian individu, tetapi ikut memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan.

“Waktu memberikan pengalaman. Kesetiaan memberikan makna. Keteladanan menjadikan keduanya berguna bagi generasi yang melanjutkan pengabdian,” katanya.

Sri Sultan Ingatkan PNS Tak Jadikan Penghargaan sebagai Tujuan

Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan mengingatkan para penerima Satyalancana Karya Satya agar tidak menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama dalam menjalankan tugas.

Ia mendorong aparatur tetap memegang prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawe, yakni bekerja sungguh-sungguh tanpa menjadikan kepentingan pribadi sebagai orientasi utama.

Pesan tersebut disampaikan seiring perubahan yang berlangsung dalam dunia pemerintahan. Digitalisasi dan perkembangan kecerdasan artifisial membuat pola kerja birokrasi terus mengalami perubahan. Pada saat yang sama, tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik juga semakin tinggi.

Kondisi itu membuat aparatur negara dituntut untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Bagi Sri Sultan, kesetiaan terhadap negara dan pengabdian kepada masyarakat tidak berarti mempertahankan cara kerja lama. Sebaliknya, aparatur harus berani melakukan pembaruan agar pelayanan publik semakin baik.

“Setia kepada pengabdian tidak berarti setia kepada cara-cara lama. Kesetiaan kepada negara justru menuntut kesediaan untuk terus belajar, keberanian untuk berubah, dan kerendahan hati untuk memperbaiki pelayanan,” tegasnya.

Pengalaman ASN Senior Diminta Jadi Teladan

Sri Sultan juga menekankan pentingnya peran aparatur senior dalam menularkan pengalaman kepada generasi penerus.

Menurutnya, masa pengabdian yang panjang tidak semestinya hanya menjadi catatan perjalanan karier pribadi. Pengetahuan, etos kerja, integritas, serta kebijaksanaan yang diperoleh selama menjalankan tugas perlu diwariskan kepada aparatur generasi berikutnya.

“Sebab institusi yang kuat bukan hanya memiliki pegawai yang cakap, tetapi juga memiliki mata rantai keteladanan yang tidak terputus,” ujar Sri Sultan.

Ia berharap pemberian Satyalancana Karya Satya dapat menjadi dorongan bagi 360 PNS penerima penghargaan untuk terus melanjutkan pengabdian serta menjaga kepercayaan masyarakat.

Sri Sultan menegaskan, penghargaan yang diberikan negara merupakan bentuk penghormatan atas perjalanan pengabdian aparatur. Namun, ukuran kehormatan seorang aparatur pada akhirnya tetap tercermin dari kepercayaan yang diberikan masyarakat.

“Pada akhirnya, tanda kehormatan dapat disematkan di dada, tetapi kehormatan yang sesungguhnya hanya dapat disematkan oleh masyarakat, melalui kepercayaan,” kata Sri Sultan.

Sumber: