Berdasarkan perkembangan titik panas, kualitas udara, dan jarak pandang yang membaik serta cenderung stabil selama sepekan terakhir, BMKG menilai pelaksanaan OMC terpadu dapat dicukupkan. Pertimbangan lainnya adalah prakiraan hujan untuk sepekan ke depan yang masih menunjukkan peluang hujan, meskipun distribusinya belum merata, serta perkiraan awal musim hujan di sejumlah wilayah.
Meski demikian, penghentian OMC terpadu tidak berarti seluruh kegiatan modifikasi cuaca harus berakhir. Operasi yang dilakukan BNPB, Kementerian Kehutanan, maupun kementerian lainnya masih dapat dilanjutkan sesuai kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan, dengan supervisi BMKG.
“BMKG bersama seluruh unsur terkait terus berkomitmen untuk menyampaikan prospek cuaca serta melakukan upaya-upaya intervensi atmosfer melalui Operasi Modifikasi Cuaca dalam mendukung percepatan penanganan karhutla saat ini,” ujar Tri.
Sementara itu, Kepala BNPB Kristomei Sianturi menegaskan bahwa hasil evaluasi menjadi dasar untuk menyesuaikan langkah penanganan bencana dengan kondisi terkini.
Dalam operasi terpadu, seluruh pelaksanaan OMC harus mengacu pada analisis dan rekomendasi teknis BMKG. BNPB dan TNI berperan menyediakan aset, mengoordinasikan, serta melaksanakan operasi berdasarkan rekomendasi tersebut.
“Yang paling penting, karena sifatnya ini adalah operasi terpadu, maka seluruh pergerakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) harus didasarkan pada arahan dan data dari BMKG; wewenang go or no-go (terbang atau tidak) sepenuhnya ada di BMKG. Kita di BNPB dan TNI hanya menyediakan aset, mengoordinasikan, dan mengeksekusi sesuai hasil analisis BMKG,” tegas Kristomei.
Evaluasi bersama ini diharapkan memperkuat koordinasi antarlembaga dalam memastikan OMC berjalan sesuai kebutuhan.
Pemanfaatan peringatan dini, pengendalian karhutla, serta kesiapsiagaan menghadapi banjir dan tanah longsor menjadi faktor penting agar penanganan bencana berlangsung efektif tanpa mengabaikan risiko di wilayah lain. (esa)